|
|
|
18 Agustus, 2010
8/18 FREE TEMPLATE
'The Assassination' is about to close
I've just been informed that 'The Assassination' by Greg Jacobs is
almost sold out. Greg will be taking the product offline within a
matter of hours (as soon as the quota is filled).
He has limited the number of copies available because of the amount
of personal coaching involved with this product as he wants to make
sure that you are making money within 8 weeks of joining.
My exclusive HUGE 12k bonus package is almost gone too, make sure
you check it out below before this shuts down:
http://www.traffictravis.com/redirect/12kassassin
Note: Greg is a man of his word, last time he launched a product
last year and it got taken down within 10 hours of launch. This one
will go any minute.
.
.
Kind Regards,
Mark Ling
Founder
Web: http://www.traffictravis.com
Facebook: http://www.facebook.com/seosoftware
Post: PO Box 2486, Christchurch 8140, New Zealand
To unsubscribe or change subscriber options visit:
http://www.aweber.com/z/r/?rKycTMyctCxsHEwsDGwMtEa07GwMTGxMnA==
8/18 Nasruddin
|
17 Agustus, 2010
Bersembunyi
| Bersembunyi Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga, karena memang tidak ada sesuatupun yang bisa dicuri di rumah itu. Akhirnya, matanya tertuju ke sebuah peti besar di pojok ruangan. Ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang sedang bersembunyi. "Aha!" kata si pencuri, "Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha...?" "Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini. |
Gmail Meneruskan Konfirmasi (#11038708) - Terima Surat dari jakaumbaran82@gmail.com
jakaumbaran82.cobacoba@blogger.com secara otomatis.
Kode konfirmasi: 11038708
Untuk memungkinkan jakaumbaran82@gmail.com meneruskan surat ke alamat
Anda secara otomatis,
silakan klik tautan di bawah ini untuk konfrimasi permintaan:
Apabila Anda mengklik tautan tersebut dan tidak bekerja, salin dan tempel
ke jendela peramban baru. Apabila Anda tidak dapat mengakses tautan,
Anda bisa mengirim kode konfrimasi 11038708 ke
jakaumbaran82@gmail.com.
Terima kasih Anda telah menggunakan Gmail!
Hormat kami,
Tim Gmail
Apabila Anda tidak menyetujui permintaan, maka tidak akan ada tindakan
yang diperlukan.
jakaumbaran82@gmail.com tidak bisa meneruskan pesan ke alamat email
Anda secara otomatis, kecuali kalau Anda mengkonfirmasi permintaan
dengan mengklik tautan di atas. Apabila Anda tidak sengaja mengklik
tautan, tetapi Anda tidak membolehkan jakaumbaran82@gmail.com secara
otomatis meneruskan pesan ke alamat Anda, maka klik tautan ini untuk
membatalkan verifikasi:
https://mail.google.com/mail/uf-f0ea67c637-jakaumbaran82.cobacoba%40blogger.com-KXT23TxsduzmFsoF2DGWZmMjxsw
Untuk mempelajari selengkapnya tentang mengapa Anda menerima pesan
ini, silakan kunjungi:
http://mail.google.com/support/bin/answer.py?answer=20318.
Jangan menjawab pesan ini. Apabila Anda ingin menghubungi Tim
Google.com, silakan masuk log ke akun Anda dan klik 'Bantuan' di
bagian atas laman. Kemudian, klik 'Hubungi Kami' di bagian bawah Pusat
Bantuan.
Kisah Mullah Nasruddin-2
Kisah Mullah Nasruddin-2
Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Rabu, 14 April 2010, 21.28 Kategori: Kisah Sufi - Komentar: 3 komentarNilai Kebenaran
Seperti biasanya, Mullah Nasruddin memberikan pengajaran di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."Seorang murid bertanya, "Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran? Kadang-kadang mahal pula?"
"Kalau engkau perhatikan," sahut Mullah Nasruddin, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia."
Yang Paling Hebat
Salah seorang murid Nasruddin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang paling besar, orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu?"
"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Mullah Nasruddin.
"Apa itu?"
"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."
Bahasa Kurdi
Tetangga Nasruddin ingin belajar bahasa Kurdi. Maka ia minta diajari Mullah Nasruddin. Sebetulnya Mullah Nasruddin juga belum bisa bahasa Kurdi selain beberapa patah kata. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia.
"Kita mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash."
"Bagaimana dengan sop dingin?"
"Hemm. Perlu diketahui bahwa orang Kurdi tidak pernah membiarkan sop jadi dingin. Jadi engkau tidak akan pernah mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi."
Pembeda Jenis Kelamin
Seorang tetangga Nasruddin telah lama bepergian ke negeri jauh. Ketika pulang, ia menceritakan pengalaman-pengalamannya yang aneh di negeri orang.
"Kau tahu," katanya pada Nasruddin, "Ada sebuah negeri yang aneh. Di sana udaranya panas bukan main sehingga tak seorangpun yang mau memakai pakaian, baik lelaki maupun perempuan."
Mullah Mullah Mullah Nasruddin senang dengan gurauan itu. Katanya, "Kalau begitu, bagaimana cara kita membedakan mana orang yang lelaki dan mana yang perempuan?"

Jatuhnya Jubah
Mullah Nasruddin pulang malam bersama kawan-kawannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Mullah Nasruddin sudah menanti dengan marah. "Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi!" katanya sambil menjewer Mullah Nasruddin. Karena kuatnya, Nasruddin terpelanting dan jatuh menabrak peti. Mendengar suara gaduh, teman-teman Mullah Nasruddin yang belum terlalu jauh kembali, dan bertanya dari balik pintu, "Ada apa ullah Nasruddin, malam-malam begini ribut sekali?"
"Jubahku jatuh dan menabrak peti," jawab Mullah Nasruddin. "Jubah jatuh saja ribut sekali?"
"Tentu saja," sesal Mullah Nasruddin, "Karena aku masih berada di dalamnya."
Tidak Terlalu Dalam
Telah berulang kali Mullah Nasruddin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Mullah Nasruddin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Mullah Nasruddin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri. Mullah Nasruddin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Mullah Nasruddin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Mullah Nasruddin.
Mullah Nasruddin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Mullah Nasruddin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Mullah Nasruddin.
Miskin Dan Sepi
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya. Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Mullah Nasruddin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Mullah Nasruddin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai kawan."
Terburu-buru
Keledai Mullah Nasruddin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Mullah Nasruddin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Mullah Nasruddin berpegangan di atasnya, ketakutan. Mullah Nasruddin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi. Beberapa kawan Mullah Nasruddin sedang bekerja di ladang ketika melihat Mullah Nasruddin melaju kencang di atas kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak, "Ada apa Mullah Nasruddin? Ke mana engkau? Mengapa terburu-buru?"
Mullah Nasruddin balas berteriak, "Saya tidak tahu! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku!"
Bersembunyi
Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga, karena memang tidak ada sesuatupun yang bisa dicuri di rumah itu. Akhirnya, matanya tertuju ke sebuah peti besar di pojok ruangan. Ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang sedang bersembunyi.
"Aha!" kata si pencuri, "Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha...?"
"Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini."

